Patuladhan Serat Tripama Untuk Pembelajaran Bahasa Jawa di SMA N 16 Semarang

Aris Samudrianto on Twitter: "SERAT TRIPAMA – Tauladan Bagi Para Prajurit  Bayangkara Negara, MANGKUNEGARA IV https://t.co/jo6jJyBL1F… "
https://www.google.com/search?q=+Serat+Tripama&tbm

Serat Tripama merupakan salah satu karya sastra yang berwujud tembang macapat dhandhanggula yang memiliki jumlah bait sebanyak 7 bait. Serat Tripama dijaman Mangkunegaran ditulis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) Adipati ing Pura Mangkunegaran (1809 – 1881) Surakarta. Serat Tripama sendiri berasal dari kata “Tri” dan “Pama”. Tri mempunyai arti 3, dan Pama artinya contoh., yang apabila digabung menjadi contoh yang berjumlah 3. Serat Tripama diterbitkan pertama kali di kumpulan karya Mangkunegara IV, jilid III (1927), berisi tentang contoh/ ajaran keprajuritan dipewayangan yaitu  Patih Suwanda, Kumbakarna, Basukarna. Berdasarkan analisis ahli sastra serat ini ditulis oleh Sri Mangkunegara IV supaya bisa menjadikan contoh / keteladanan tidak hanya untuk para prajurit, tetapi juga bisa untuk pemimpin, masyarakat, juga para generasi muda/milenial.

Dalam pembelajaran di sekolah khusunya di SMA serat tripama ini dimasukan ke dalam materi pembelajaran kelas XII semester 2.  Serat tripama dijadikan pembelajaran dengan tujuan yaitu para siswabisa belajar dari 3 keteladananyaitu: 1) Patih suwanda, seorang Patih dari negara Mahespati yang sikap utamanya berupa kesetiaanya terhadap rajanya yaitu Prabu Arjuna Sasrabahu. Pengabdian Patih Suwanda meliputi 3 hal, pertama “Guna” yang berarti pana, pinter dan terampil, kedua “Kaya” yang berarti serba kecukupan, kasil/berhasil dan ketiga adalah “Purun” yang artinya mau dan berani. Dari tiga hal pengabdian Patih Suwanda ini bisa menjadi keteladan bagi siswabahwa untuk mencapai kesuksesan dalam hidup harus mempunyai bekal ilmu, terampil dan mempunyai keinginan yang kuat untuk meraihnya, serta patuh terhadap guru seperti watak Patih Suwanda patuh terhadap Rajanya. 2) Kumbakarna, Kumbakarna merupakan seorang Kesatria dari Alengka adik dari Dasamuka. Kumbakarna seorang kesatria yang mengedepankan “Bela negara” atau yang kita kenal dengan “Right or wrong my country”. Walaupun kumbakarna berwujud raksasa ia tetap ingin mencapai keutamaanyayaitu membela negaranya. Ketika terjadi peperangan ia berkali kali menasehati kakaknya Dasamuka untuk melepaskan Dewi Sinta demi keselamatan kerajaan Ngalengka, tetapi Dasamuka tidak menggubrisnya akhirnya Kumbakarna memilih menyingkir. Pada saat terjadi peperangan di ngalengka Kumbakarna  dibangunkan paksa dan diperintah kakaknya untuk maju perang. Untuk menetapi watak kesatrianya yaitu bertekad untuk membela negaranya akhirnya Kumbakarna maju dalam peperangan tersebut dan Kumbakarna gugur sebagai pahlawan bangsa. Dari kisah Kumbakarna ini bisa kita petik pesan moral untuk para siswa saat ini yaitu sikap  nasionalisme, bela negara dan patriotisme yang berlandaskan kecintaan terhadap tanah air ini. Dalam era milenia sekarang ini rasa cinta tanah air dan bangsa harus kita pupuk demi kemajuan bangsa dan negara. seperti watak yang digambarkan Kumbakarna mempertaruhkan jiwa dan raganya demi tanah airnya. (3) Basukarna atau Adipati Karna, terpilih sebagai kesatria luhur yang didalam serat Tripama patut untuk dicontoh yaitu sikap kesetiaan terhadap Prabu Duryudana. Karna adalah kesatria yang tidak untuk membela kurawa yang angkara murka namun demi kesetiaanya pada sumpah yang terlanjur diucapkanya untuk setia kepada Prabu Duryudana yang sudah memberinya derajat yang tinggi. Menjelang perang Bratayuda Karna dibujuk oleh ibunya Dewi Kunthi untuk berperang dipihak Pandhawa, akan tetapi Karna menolak dan bersi keras walaupun Pandhawa masih saudara dan berada dipihak yang benar , akan tetapi sebagai seorang kesatria Karna memilih menepati janji yang sudah dibuatnya. Karna berani mengorbankan segala galanya demi mempertahankan komitmennya walaupun dia sadar bahwa dia membela pihak yang salah. Dalam perang Bratayudha Karna gugur di medan laga terkena panah  Raden Harjuna. Nilai budi pekerti yang digambarkan oleh sikap Karna ini bisa jadi suri tuladan untuk generasi selanjutnya. Sikap menepati janji dan menjalankan komitmen yang sudah dibuat sampai mempertaruhkan jiwa dan raga adalah bentuk tingkah laku yang utama. Watak dan tekad memegang janji membalas budi pada hakekatnya tidak berbeda dengan menepati sabda atau kata yang telah terucap sehingga ucapan sesuai dengan perbuatan.

Ketiga pahlawan tersebut sebagai teladan bagi masyarakat Jawa khusunya untuk generasi generasi selanjutnya. Sudah sepantasnya sebagai orang Jawa bisa meneladani apa yang telah dilakukan ketiganya,  karena contoh yang baik harus kita tiru supaya bisa menjadi manusia yang utama.

Penulis : Reni Dwi Wardani, S.Pd ( Guru Bahasa Jawa SMA N 16 Semarang)

Editor : Sigit Pandu Cahyono